Intermediate Class: Analisis Teknikal
Intermediate Class
Kelemahan analisis fundamental adalah ia tidak bisa memberikan target angka ke mana harga akan bergerak. Yang bisa diberikan hanyalah: mengapa harga menguat/melemah, dan ke mana arahnya; naik atau turun. Kita tidak bisa mengorek informasi kira-kira harga akan bergerak ke level angka berapa. Untuk itulah analisis teknikal dihadirkan ke hadapan Anda.
Berbeda dengan analisis fundamental yang menggunakan data-data ekonomi, analisis teknikal justru mempelajari pergerakan angka-angka yang terlihat di grafik. Tujuannya adalah untuk mengenali “trend harga” dan peluang profitnya.
Analisis teknikal bisa membantu kita untuk mengindentifikasi level BUY maupun SELL, berikut dengan target profit dan batasan resikonya.
Jadi, apakah Anda sudah siap? Mari kita mulai!
Fondasi Analisis Teknikal
Ada 3 asumsi dasar dalam analisis teknikal:
1. Market action discounts everything
Bukan, ini bukan diskon seperti di supermarket. Arti sebenarnya dari kalimat ini kira-kira adalah bahwa apapun yang bisa mempengaruhi pergerakan harga – data fundemantal, situasi politik, dan lain-lain – sebenarnya tercermin dalam pola pergerakan harga di pasar. Oleh karena itu para “teknikalis” (orang yang hanya berpedoman pada analisis teknikal) beranggapan bahwa yang penting bagi mereka adalah ke level berapa harga akan bergerak, bukan mengapa harga bergerak.
2. Prices move in trend
Arti kalimat ini cukup jelas. Harga selalu bergerak dalam suatu “trend” atau arah tertentu, apakah itu naik, turun, atau datar-datar saja. Yang perlu diketahui nantinya adalah di mana batasan-batasan tren itu sendiri, dan kapan kira-kira tren itu akan berhenti. Kita akan mempelajari mengenai tren harga (price trends) dalam chapter analisis teknikal ini.
3. History repeats itself
Sejarah selalu berulang, begitulah bunyi teori ini. Benarkah?
Jangan terkecoh. Yang dimaksud dengan “selalu berulang” sebenarnya bukanlah level harga tertentu. Misalnya, kemarin harga berada di 16200, maka meskipun sekarang harga turun ke 12000, besok atau lusa atau tahun depan pasti harga itu akan muncul lagi. Meskipun bisa saja terjadi, namun bukan itu yang dimaksud oleh teori ini.
Yang selalu berulang adalah pola. Pergerakan harga membentuk pola-pola tertentu yang ternyata cenderung mucul dan muncul lagi dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya para teknikalis bisa memprediksi arah pergerakan harga selanjutnya berdasarkan “sejarah” yang terjadi ketika pola yang sama muncul. Ingat saja kutipan “Jas Merah” milik salah satu presiden negeri kita, jangan sekali- sekali melupakan sejarah. Hmm, cukup masuk akal.
Nantinya Kita juga akan mempelajari pola prediksi pergerakan arah yang dimaksud.