Intermediate Class: Mempelajari Grafik

Berhubung analisis teknikal sangat tergantung pada grafik, maka mari kita mempelajari grafik!

Grafik (chart) merekam setiap pergerakan harga yang terjadi di pasar. Pembacaan grafik yang tepat bisa membantu kita untuk melakukan analisis teknikal dengan baik.

Ada 3 jenis grafik (chart) yang dipergunakan: line chart, bar chart, dan candlestick chart. Mari kita pelajari satu per satu.

1. Line chart

Grafik ini merupakan jenis yang paling sederhana. Sesuai dengan namanya, grafik ini hanya berbentuk garis yang menghubungkan harga-harga penutupan dalam periode waktu tertentu. Misalnya: hari pertama perdagangan ditutup pada harga 100, hari kedua 200, hari ke-3 di 150, hari ke-4 di 250… maka garis lurus dihubungkan melalui 100, 200, 150, 250, dan seterusnya.

Berikut adalah bentuk line chart dalam platform trading:

 

Line chart tidak menyediakan informasi mengenai harga pembukaan, harga tertinggi, maupun harga terendah dalam satu periode waktu tertentu, sehingga fluktuasi harga dalam kurun waktu itu tidak terpantau.

 2. Bar chart

“Bar” artinya batang, maka bar chart lebih kurang adalah grafik yang berbentuk batangan. Bar chart bisa memberi informasi tentang harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah dari satu periode waktu tertentu.

 Dalam platform trading, bar chart terlihat seperti ini:

 

Kaget, atau malah bingung? Tak apa, kita akan mempelajari bagaimana cara membacanya karena tidak terlalu rumit juga koq.

Tenang, kita akan pelajari bagaimana cara membacanya. Tidak terlalu rumit kok.

Ayo kita teliti lagi dan perhatikan bentuk dasar dari bar chart ini ternyata hanya ada dua. Lihat gambar berikut:

 

Benar kan, sederhana? Bar chart hanyalah grafik yang berbentuk batang dan memiliki dua “tangkai”; satu di kiri, satu di kanan. Tangkai yang ada di sebelah kiri kita mewakili harga pembukaan (open), sedangkan tangkai yang di kanan mewakili harga penutupan (close). Sedangkan ujung atas dan bawah masing-masing mewakili harga tertinggi (high) dan harga terendah (low) dari satu periode waktu tertentu.

Panjang pendeknya bervariasi, tergantung pada besarnya fluktuasi pada waktu itu.

3. Candlestick chart

 Memiliki nama lengkap “Japanese candlestick chart”. Mengapa dinamakan demikian, apa juga yang melatarbelakanginya. Konon, yang pertama kali menggunakan grafik jenis ini adalah bangsa jepang di masa sebelum restorasi Meiji, tapi kita tidak akan membahas sejarah kali ini, tenang saja.

Bentuk dari candlestick chart mirip dengan bar chart, hanya saja badannya sedikit lebih gemuk dan tidak mempunyai tangkai. Ada lagi kesamaan atara keduannya, candlestick chart juga memberikan informasi harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah dalam suatu periode waktu tertentu.

Contohnya dalam platform adalah:

 

Bentuk dasar dan cara membacanya adalah seperti berikut:

 

Jika kita perhatikan, bentuk candlestick chart mirip dengan lilin. Mungkin itulah sebabnya dinamakan ‘candlestick’. Bentuk yang mirip sumbu disebut dengan shadow. Sumbu yang di atas diberi nama upper shadow, yang ujungnya menunjukkan harga tertinggi (high) dari satu periode waktu tertentu. Sedangkan sumbu yang di bawah disebut lower shadow, yang ujungnya menunjukkan harga terendah (low).

Lalu, yang mirip dengan batang lilin itu apa dong? Itulah real body atau biasa dilafal body saja, setiap ujungnya masing-masing mewakili harga pembukaan (open)e dan harga penutupan (close). Tambahan, jika haga open-nya berada di atas, maka candlestick itu disebut bear candle, tapi jika open-nya di bawah disebut bull candle. Bear adalah istilah yang digunakan untuk keadaan harga yang sedang turun, sedangkan bull sebaliknya.

Baik! terus bagaimana cara kita untuk mengetahui letak harga open/close dalam chart candle ini? Pada contoh di atas, yang kita gunakan adalah warna hitam untuk bear candle (harga open di atas) dan putih untuk bull candle (harga open di bawah). Tapi pada prakteknya kita bebas menentukan wana sesuai selera kita, konsekuensinya adalah kita harus ingat dengan baik warna apa saja yang kita gunakan untuk menAndai bear maupun bull candle.

Timeframe

Untuk memudahkan bagian ini, tanam saja dalam benak arti kata dari time itu sendiri, yaitu waktu. setuju!

Bar chart maupun candlestick chart sama-sama menunjukkan fluktuasi harga pada satu periode waktu tertentu yang disebut timeframe. Pada platform trading MetaTrader, kita bisa memilih timeframe dari 1 menit (M1), 5 menit (M5), 15 menit (M15), 30 menit (M30), 1 jam (H1), 4 jam (H4), harian (D1), mingguan (W1), dan bulanan (MN).

 

Jika chart kita patok pada timeframe 1 jam (H1), maka masing-masing bar atau candle mewakili pergerakan harga selama satu jam. Jika kita patok pada timeframe 15 menit (M15) misalnya, maka masing-masing batang atau candle mewakili pergerakan harga selama 15 menit, dan seterusnya.